Archive

Archive for the ‘Renungan’ Category

Fenomena Pengemis

October 22nd, 2009

Pengemis adalah sebuah Fenomena. Bagaimana tidak, berdasarkan penelitian sebuah lembaga survey di Jakarta belum lama ini, pendapatan  brutto mereka antara Rp.50.000,- s.d Rp. 100.000,- dan uang receh yang beredar ditangan para pengemis ini hampir mencapai Rp. 1 milyar perhari. Sungguh sebuah Fenomena.

Memasuki bulan Ramadhan, mereka berbondong-bondong datang ke kota-kota besar di Indonesia. Di Jakarta sendiri mereka telah datang sebelum bulan puasa tiba. Kegiatan mengemis ini disinyalir banyak pihak di organisir oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak punya Jati Diri.

Untuk mengantisipasi kegiatan mengemis ini semakin marak, maka MUI Jawa Timur telah mengeluarkan Fatwa Haram Mengemis. Dan langkah baik MUI Jawa Timur ini mendapat sambutan yang positif dari MUI Pusat. Sedangkan di Jakarta sendiri telah terlebih dahulu melarang kegiatan mengemis ini yang dimuat melalui Peraturan Daerah (Perda) No. 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum.

Kita bukannya antipati terhadap Pengemis ini, namun apabila dibiarkan terus menerus dan tanpa adanya tindakan pencegahan, kegiatan ini di khawatirkan akan menjadi sebuah penyakit sosial yang makin menjadi dan membuat anak Bangsa jadi malas bekerja. Kalau sudah begini, tentu kita tidak dapat menjadi sebuah bangsa yang besar dan tidak akan mampu pula Mengembalikan Jati Diri Bangsa

Keberadaan Pengemis ini tentu sangat erat kaitannya dengan kemiskinan dan ketersediaan lapangan kerja. Untuk itu Departemen Sosial harus melakukan penanganan serius terhadap masalah ini. Memberikan bekal berupa pendidikan keterampilan adalah salah satu solusi agar mereka dapat menjadi pribadi yang produktif

Kita memang disunnahkan bersedekah dan tidak harus pandang bulu. Namun ada baiknya kita memberikan sedekah kepada orang yang tepat menerimanya, bukan kepada para Pengemis yang teroganisir itu.

Memang pada kenyataan masih banyak sekali anak Bangsa ini yang masih hidup dibawah garis kemiskinan dan ini tentu merupakan sebuah pekerjaan rumah bagi pemerintah, khususnya Kabinet Indonesia Bersatu II. Kita tunggu aksi mereka

Fenomena Pengemis ini diangkat untuk memperkuat posisi sahabat Khai di Google SERPs dengan postingan apiknya Mengembalikan Jati Diri Bangsa

bloggergurem Renungan , , , , , , ,

Kisah Sukses Pengusaha Warnet

October 15th, 2009

Dipenghujung tahun 2007 seorang teman dengan tekad bulat membuka sebuah warung internet yang berlokasi dipinggir jalan yang tidak begitu ramai. Lokasi itu tepatnya disebuah gang yang hanya bisa dilalui oleh dua buah mobil sedan, dan tak jauh dari situ terdapat sebuah sekolah SMK.

Di daerah itu internet memang belum begitu memasyarakat. Maklumlah daerah kecil dan agak jauh dari pusat kota. Dengan bermodalkan dua buah komputer pentium 4 lawas plus dua monitor cembung yang ditopang oleh koneksi dari Speedy beliau mulai membuka usahanya.

“Dibulan-bulan pertama keuntungan tidaklah terlalu besar. Bahkan bisa break event point saja sudah alhamdulillah”, dia menuturkan padaku via telepon waktu itu. “Namun berkat promosi ‘ala kadarnya’  dan semangat pantang menyerah, semakin hari semakin banyak anak-anak sekolah yang datang ke warnetku”.

Dia menyadari tidak mudah bertahan dalam usaha warnet ini. Koneksi yang lambat plus komputer yang sering rewel membuat dia sering ‘dimaki’ oleh para langganannya. Namun berkat bantuan seorang teman lama yang sudah tamat kuliah di Bandung dan mengajar pada SMK tersebut, semua kendala bisa diatasi.

“Memasuki bulan tahun pertama  saya sudah bisa mengandalkan pendapatan dari usaha ini dan kini setelah memasuki tahun kedua komputer di warnetku sudah berjumlah 20 unit, dan bukannya sombong sob, pendapatan rata-rata warnetku sekarang ini adalah 15 juta net perbulan”. Katanya penuh semangat.

Subhanallah.. 15 juta perbulan? 20 unit PC? Masih bujangan, rajin sholat lagi! Aku terdiam. Mataku menatap kosong jauh ke depan.

Terbayang dalam ingatanku saat dulu kami menempati ruangan persegi empat yang pengap. Sering tidak makan karena kiriman dari kampung datang terlambat. Sering mendatangi rumah Susi untuk minta sepiring nasi yang kami santap berdua bersama dua buah kerupuk rambak.

Kini, setalah kami dewasa dan jauh terpisyah, banyak perubahan yang terjadi.

Aku seperti jalan ditempat. Tertinggal jauh dari langkah-langkah cepat para sahabat. Bagaimana dengan sobat sekalian?? Mudah-mudahan kalian sukses juga.

Salam hangat semuanya dan tak lupa memberikan dukungan untuk sahabat Khai yang sedang ter SEOk-SEOk dalam kontes mengembalikan jati diri bangsa

bloggergurem Renungan , , , , ,

Rahasia Kaya Mendadak

October 7th, 2009

Sahabat tentu sudah sering membaca tentang sebuah buku panduan (e-book) dengan iming-iming rahasia kaya mendadak hanya dalam tempo beberapa hari saja. Hal itu bukan omong kosong. Nyatanya para re-seller mereka mengungkapkan secara jujur (menurut mereka) fakta yang terjadi melalui sebuah testimonial yang mereka letakkan dihalaman depan pada situs yang menjual e-book tersebut. Percayakah sahabat semuanya akan hal itu?

Kalau sahabat percaya, selamat! Sahabat telah kena TIPU!!!!

Saya bukan bicara tanpa alasan. Saya sudah membeli sebuah e-book jauh sebelum saya ngeblog. Tepatnya 6 tahun silam. Saat itu saya masih lugu. Ingin kaya mendadak hanya bermodalkan koneksi internet dial-up. Tak kurang dari Rp.800.000,- uang yang saya keluarkan perbulan hanya untuk koneksi internet. Waktu itu harga telkomnet instan berkisar Rp.9.000,- (Exl.PPN 10%).

Tanpa kenal lelah saya mengikuti panduan dibuku itu. Berharap orang akan beramai-ramai mentransfer uang kepada saya. Sehari, seminggu,sebulan, setahun, hasilnya tak kunjung datang.Dan sampai akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa saya telah tertipu!

Pantas saja ketika saya mentransfer sejumlah uang untuk membeli e-book itu via BCA, teller-nya mentertawakan saya. “Pak, hati-hati.. itu scam”. Begitu kata wanita cantik bertutur kata lembut itu mengingatkan saya. Berhubung saya masih katro dan tidak mengerti apa itu istilah scam, maka dengan lugu saya menjawab, “Alhamdulillah kalau begitu,mbak”.

Tetapi setelah saya mulai aktif ngeblog dan banyak sharing sama teman-teman blogger, ternyata benar. E-book dodol itu adalah scam. Tidak ada yang mau membelinya kecuali orang-orang katrok seperti saya ini. Jadi… waspadalah..waspadalah….!!!!

Maaf, ini hanya sharing pengalaman pribadi. Tidak bermaksud menggurui pihak2 lain. Murni pengalaman pribadi

bloggergurem Renungan , , , , , ,

Lucu ya …

May 12th, 2009

Seminggu yang lalu di inbox fesbuk saya masuk sebuah pesan singkat dari seorang sahabat, Putri Chairina, yang isinya sungguh memikat dan membuat merah muka saya.  Sebuah pesan berisi renungan perilaku keseharian kita yang kadang disepelekan.

Mudah – mudahan pesan ini bisa menjadi bahan renungan dan pengingat buat saya dan tentunya para sohib Front Blogger Gurem seperti Gus Yehia, Kang Endar, Cah Sholeh, Pak Marsudiyanto si Tukang Nggame, Gaia, dan khususon Khairuddin Syah yang ngakunya lagi males tapi malah sertik-nya kumat, ngoprek template.

marilah kita baca bersama – sama;

Lucu ya,
uang Rp 50,000an kelihatan begitu besar bila dibawa
ke kotak amal mesjid, tapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket
Lucu ya,
45 menit terasa terlalu lama untuk berzikir, tapi
betapa pendeknya waktu itu untuk sebuah sinetron atau infotainment

Lucu ya,
betapa lamanya 2 jam berada di Masjid, tapi betapa
cepatnya 2 jam berlalu saat menikmati pemutaran film di bioskop

Lucu ya,
susah merangkai kata untuk dipanjatkan saat berdoa
atau sholat,tapi betapa mudahnya cari bahan obrolan
(gossip) bila ketemu teman

Lucu ya,
betapa serunya perpanjangan waktu dipertandingan
sepak bola favorit kita, tapi betapa bosannya bila
imam sholat Tarawih bulan Ramadhan kelamaan bacaannya.

Lucu ya,
susah banget baca Al-Quran 1 juz saja, tapi novel
best-seller lebih dari 100 halaman pun habis dilalap

Lucu ya,
orang-orang pada berebut paling depan untuk nonton
konser musik favorit tapi berebut cari shaf paling belakang bila
sholat Jum’at agar bisa cepat keluar

Lucu ya,
kita perlu undangan pengajian 3-4 minggu sebelumnya
agar bisa disiapkan di agenda kita, tapi untuk acara
lain jadwal kita gampang diubah seketika

Lucu ya,
susahnya orang mengajak partisipasi untuk dakwah,
tapi mudahnya orang berpartisipasi menyebar gossip

Lucu ya,
kita begitu percaya pada yang dikatakan koran, tapi
kita sering mempertanyakan apa yang dikatakan Al-Quran

Lucu ya,
kita bisa ngirim ribuan jokes lewat email, tapi bila
ngirim yang berkaitan dengan ibadah sering mesti berpikir dua-kali

Lucu ya,
semua orang penginnya masuk surga tanpa harus
beriman, berpikir, berbicara ataupun melakukan apa-apa
tapi….

deden Gurem, Renungan , , , , ,

ESQ Way 165

April 17th, 2009

Kemarin setelah membaca komen saudara saya Khay yang menyatakan keprihatinannya bahwa saya menghilang lagi dan bahkan Khay takut saya lagi – lagi hanyut di Sungai Mahakam. Saya langsung saja ndak terima dan menghubungi Khay lewat jalur YM break break …

“Kemana saja sob, kok menghilang lagi?” katanya dengan suara ketikan yang lirih dan pilu.  Dan segera saja pertanyaan itu menghidupkan sebuah sesi obrolan yang seru dan penuh canda, saling kaplok – kaplokan ala Budi Anduk dan Ari Rampok.

ESQ Way 165, inilah sebuah pelatihan leadership yang saya ikuti Maret 2009 lalu, tepatnya Professional Angkatan 13 Samarinda, dikirim sebagai utusan dari kantor saya bekerja ini bersama enam orang kawan sekantor yang lainnya.  Alhamdulillah, konsultan PSDM di kantor rupanya melihat dengan jeli bahwa akhir – akhir ini saya memang mengalami kemunduran di segala bidang baik mental dan spiritual sehingga mereka merasa perlu untuk mengirim saya mengikuti training ini.  Di saat mengikuti training inilah saya berkopdar dengan sahabat blogger yang sebelumnya hanya tahu lewat online saja; Fachrul Rozy, yang saat itu menjadi petugas ATS (Alumni Training Support) Samarinda.

Dan memang secara jujur harus saya akui bahwa training ini sungguh membawa perubahan yang sangat berarti bagi diri saya.  Perubahan saya rasakan bukan hanya mempengaruhi sikap dan pola kerja di perusahaan, namun juga terjadi dalam menghadapi kehidupan sehari – hari di keluarga menghadapi istri dan anak – anak.

Kemudian sangking mengenanya training itu, hingga begitu ada informasi diadakannya training lanjutan; ESQ Intermediate MCB Mission and Character Building Angkatan I di Samarinda, segera saja saya mendaftar dan kemaren tanggal 11 – 12 April 2009 telah pula saya ikuti dengan baik.  Dan sekali lagi berjumpa bersama mas Rozy yang kali ini juga menjadi peserta training.  Hehehe

Tapi yang mencengangkan saya, setelah berulangkali menyebut ESQ saat YM-an kemaren, Khay nanya gini; ESQ itu apa sob?  Saya pikir awalnya Khay hanya mengolok-olok saya saja, karena ESQ Way 165 sudah lama ada di Indonesia ini dan justru berkantor pusat di Jakarta, bahkan saat ini sudah berkembang ke negara – negara tetangga kita Malaysia, Singapura, Australia, Amerika dan Eropa … tapi Khay bersikeras menyatakan bahwa dia ndak tahu apa itu ESQ Way 165 dan meminta saya menceritakannya.

Baiklah Khay, ESQ Way 165 adalah sebuah pelatihan leadership berasaskan EQ Emotional Quotient (Kecerdasan Emosional) dan SQ Spiritual Quotient (Kecerdasan Spiritual) dengan 1 Nilai Ihsan, 6 Prinsip Iman, dan 5 Langkah Islam.

ESQ Way 165 adalah sebuah pelatihan yang melakukan total brain storm terhadap pola pikir, kalau saya bilang mereka melakukan low level format di boot sector otak kita, dan menuliskan lagi sebuah OS yang Open Source; ESQ Way 165, sehingga kemudian setiap kali otak kita melakukan boot maka yang pertama kali dibaca adalah sebuah nilai Ihsan, 6 prinsip iman dan 5 langkah Islam.   Sehingga sebelum melakukan aktifitas sehari – hari, alam bawah sadar kita telah terisi dengan sebuah tingkat kesadaran tertinggi;  Shalatku, Ibadahku, Hidupku, dan Matiku hanyalah untuk Allah Seru Semesta Alam.

So Khay, inilah aku, seorang kawanmu yang telah berupaya merangkai kembali seluruh fragment hidupnya menjadi seorang manusia yang utuh, seorang  hamba yang mengabdikan seluruh kehidupannya sebagai Khalifah Allah yang membawa Islam sebagai rahmad bagi semesta alam.

deden Renungan , , , ,

Mencari Aku

March 23rd, 2009

Tiga hari tidak berhubungan dengan dunia bejat online bukan berarti saya sudah kehilangan semangat dan tak mempedulikan sahabat – sahabatku di sini, bukan itu sob, namun justru sebenarnya saya sedang menjalani sebuah proses mengumpulkan diri saya yang selama ini tercerai berai tak karuan.  Alhamdulillah proses ini dengan mulus bisa saya jalani tanpa harus menghanyutkan diri di Sungai Mahakam.

Ampunilah aku Ya Allah.

Mengapa baru sekarang aku bisa sedikit mulai melihat makna kehidupanku ini Ya Allah, bahkan untuk memaknai sebuah kata Ihsan yang kebetulan juga merupakan sebuah nama yang diberikan oleh orang tuaku.

Tiga puluh tujuh tahun hidupku telah aku lalui berputar – putar dalam lorong labirynth yang seolah tanpa berujung pangkal.  Engkau berikan mata padaku namun aku tak melihat kebenaranMu itu Ya Allah.  Engkau berikan aku pendengaran, namun aku tak mendengar kalamMu ya Allah.

Dalam setengah tahun terakhir ini saja aku telah terjerumus dalam tiga kali masalah yang sama, betapa bodohnya aku Ya Allah.

Pertama saat menjelang Ramadhan tahun lalu, Engkau berikan pertolonganMu melalui seorang sahabatku … namun waktu itu aku tak melihat pertolonganMu itu Ya Allah.

Kemudian yang kedua kalinya saat awal tahun ini, lagi Engkau berikan petunjukMu melalui sahabat – sahabatku … namun tetap saja mataku buta tak melihat petunjukMu itu Ya Allah.

Dan ketiga kali ini, saat aku mulai kehilangan arah setelah diterpa masalah yang sama berulang – ulang karena kebodohanku sendiri, Engkau masih memberikan petunjukMu padaku dan kemudian membukakan mata hatiku melewati sahabat – sahabatku.

Berikanlah kekuatan di dalam hatiku ini Ya Allah, agar aku dapat tetap menjaga cahaya yang telah Engkau tunjukkan kepadaku. Amin

deden Renungan , , , , ,

TEMAN ADALAH HADIAH BAGIKU

March 13th, 2009

Ini sebuah posting yang saya copas dari email kiriman sahabat saya dari kecil hingga detik ini; Yuyun A. Sanie.  Katanya sih hasil copas dari http://perempuan.com btw thanks Yun sudah mengingatkanku tentang arti sebuah persahabatan.

Assalamualaikum…

Dear all my friends….

Seperti hadiah, ada yang isinya bagus dan ada yang isinya jelek. Yang isinya bagus punya jiwa yang begitu indah sehingga kita terpukau ketika berbagi rasa dengannya, ketika kita tahan menghabiskan waktu berjam-jam, saling bercerita dan menghibur, menangis bersama, dan tertawa bersama. Kita mencintai dia dan dia mencintai kita.

Yang isinya buruk punya jiwa yang terluka. Begitu dalam luka-lukanya sehingga jiwanya tidak mampu lagi mencintai, justru karena ia tidak merasakan cinta dalam hidupnya. Sayangnya yang kita tangkap darinya seringkali justru sikap penolakan, dendam, kebencian, iri hati, kesombongan, amarah, dan lain-lain

Kita tidak suka dengan jiwa-jiwa semacam ini dan mencoba menghindar dari mereka. Kita tidak tahu bahwa itu semua BUKAN-lah karena mereka pada dasarnya buruk, tetapi ketidakmampuan jiwanya memberikan cinta karena justru ia membutuhkan cinta kita, membutuhkan empati kita, kesabaran dan keberanian kita untuk mendengarkan luka-luka terdalam yang memasung jiwanya.

Bagaimana bisa kita mengharapkan seseorang yang terluka lututnya berlari bersama kita? Bagaimana bisa kita mengajak seseorang yang takut air berenang bersama? Luka di lututnya dan ketakutan terhadap airlah yang mesti disembuhkan, bukan mencaci mereka karena mereka tidak mau berlari atau berenang bersama kita. Mereka tidak akan bilang bahwa “lutut” mereka luka atau mereka “takut air”, mereka akan bilang bahwa mereka tidak suka berlari atau mereka akan bilang berenang itu membosankan dll. Itulah cara mereka mempertahankan diri.

Mereka akan bilang:
“Menari itu tidak menarik”
“Tidak ada yang cocok denganku”
“Teman-temanku sudah lulus semua”
“Aku ini buruk siapa yang bakal tahan denganku”
“Kisah hidupku membosankan”

Mereka tidak akan bilang:
“Aku tidak bisa menari”
“Aku membutuhkan kamu denganku”
“Aku kesepian”
“Aku butuh diterima”
“Aku ingin didengarkan”

Mereka semua hadiah buat kita, entah bungkusnya bagus atau jelek, entah isinya bagus atau jelek. Dan jangan tertipu oleh kemasan. Hanya ketika kita bertemu jiwa dengan jiwa, kita tahu hadiah sesungguhnya yang sudah disiapkanNya buat kita.

Wassalam….

deden Renungan , , ,

Sekedar Bertanya Saja

March 2nd, 2009

Saya cuma ingin bertanya saja, begini;  Apa yang Anda rasakan bila seandainya seseorang yang selama ini Anda sebut – sebut namanya, Anda pikirkan siang dan malam, pokoknya orang yang selama ini Anda anggap adalah salah seorang sahabat Anda lah.  Seseorang yang Anda pandang sebagai orang yang terhormat dan patut diteladani dari segi ilmu dan perilakunya, sehingga Anda merasa bangga bahwa Anda menjadi salah satu sahabatnya.

Namun tiba – tiba Anda menyadari bahwa orang tersebut sama sekali tak pernah merasa bahwa Anda adalah sahabat bagi dirinya.

Nah pernah kah Sobat mengalami hal seperti ini, dan saya ingin tau apa yang Sobat rasakan begitu mengalami kejadian seperti itu.

Please, let me know.

deden Renungan

Sabuk Pengaman

March 2nd, 2009

Safety First... by kelly johnson1228 Di Pelajaran Fisika waktu saya sekolah dulu, pernah di ajarkan tentang Kecepatan Relatif, Percepatan, Kecepatan, dan lain sebagainya yang pada waktu itu saya gak merasa hal – hal semacam itu ternyata penting di kehidupan sehari – hari.  Pokoknya ATM hapalkan saja rumusnya agar saat ujian bisa menghitung semua soal dan menjawab dengan benar, titik.

Saat ini di jaman yang serba modern dimana faktor kecepatan menjadi tuntutan di segala bidang, bahkan sampai Telkom menjual produk yang dinamai Speedy *HOAX* hingga teknologi sepeda motor yang sudah dengan entengnya berakselerasi mencapai kecepatan 100 KM/h.  Nah, apalagi dibidang otomotive; kini mobil – mobil sedemikian canggih dan nyaman dikendarai, meluncur mulus di jalan didukung teknologi suspensi yang empuk.

Kembali ke Kecepatan, Percepatan, Kecepatan Relatif di atas dan kaitannya dengan Sabuk Pengaman, betapa pentingnya peran sebuah sabuk pengaman aka safety belt yang saat ini pastinya telah ada di setiap mobil.  Gunakanlah Safety Belt setiap saat, jangan terlena dengan Kecepatan Relatif kita yang 0 Km/jam bila berada di dalam sebuah mobil yang sedang melaju dengan kecepatan 100 Km/jam di jalan Tol.  Bayangkan bila sang Admin tiba – tiba jadi pocong mengerem mendadak karena ada rombongan kampanye menyeberang, misalnya. Hiiii serem.

Ada satu hal lagi yang menarik untuk kita renungkan bersama, begini; Bayangkan diri kita sedang berdiri diam di tengah lapangan bola.  Berapa kecepatan relatif kita terhadap bumi? Pastilah 0 Km/Jam, bener gak?  Persis sama dengan kecepatan relatif kita saat menumpang mobil yang sedang melaju dengan kecepatan 100 Km/Jam.  Bener kan.

Perlu disadari, bahwa saat kita berdiri diam di tengah lapangan ini, sesungguhnya kita sedang berada dalam sebuah kendaraan yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi, sangat cepat malah, 1.674,38 km/h *Seribu Enam Ratus Tujuh Puluh Empat koma Tiga Puluh Delapan kilometer per jam* … inilah kecepatan bumi berputar di Garis Khatulistiwa, kendaraan yang kita tumpangi sejak kita dilahirkan hingga sampai detik ini.

Sekarang saya minta kita sama – sama membayangkan; Apa yang terjadi bila bumi ini tiba – tiba berhenti berputar dan bahkan tiba – tiba dibalik arah perputarannya?

Apakah benar yang terjadi seperti gambaran di bawah ini:

Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur.  Surah Al-Haqqah ayat 14.

Sudahkan kita bersiap mati kalau – kalau bumi ini berhenti berputar?

Satu saja pesan saya, Fasten your seat belt!

deden Renungan , , , ,